03/03/2021

Sejarah Perkembangan ‘Pertanian Indonesia’

Masa Penjajahan Belanda

www.youplusdallas.comSejarah Perkembangan ‘Pertanian Indonesia’. Pada tahun 1830, pemerintah kolonial terlibat dalam perang Jawa terbesar (Perang Diponegoro dari tahun 1825 hingga 1830) dan hampir bangkrut. Gubernur Judo memperoleh izin khusus untuk melaksanakan Cultuur Stelsel, yang tujuan utamanya adalah pemerintahan kolonial yang kosong. Perbendaharaan, atau bikin meningkatkan defisit.

Sistem pertanian wajib berbeda dengan asumsi bahwa desa di Jawa harus berutang sewa tanah kepada pemerintah, dan sewa tanah biasanya menyumbang 40% dari tanaman utama desa. Van den Bosch berharap setiap desa akan menyisihkan sebagian lahannya untuk menanam komoditas ekspor (kopi, tebu, dan nila) ke Eropa. Penduduk dipaksa untuk menggunakan sebagian dari tanah yang subur (setidaknya seperlima dari area, terhitung 20%) dan menyisihkan sebagian dari hari kerja untuk pekerjaan pemerintah.

Dengan ikut serta dalam pertanian paksa, desa akan mampu melunasi hutang pajak tanahnya. Apabila pendapatan desa dari hasil penjualan komoditas ekspor melebihi pajak bumi yang harus dibayarkan, maka desa tersebut akan mendapat kelebihan pendapatan. Jika ada kekurangan, desa harus menebus kekurangan tersebut melalui jalur lain.

Sistem pertanian wajib secara perlahan diperkenalkan dari tahun 1830 hingga 1835. Pada tahun 1840, sistem tersebut beroperasi penuh di Jawa.

Pemerintah kolonial memobilisasi lahan pertanian, kerbau, sapi, dan tenaga kerja gratis. Kopi, teh, tembakau, tebu dan komoditas lainnya ditanam, dan permintaan komoditas ini di pasar dunia melonjak.

Bagi pemerintah kolonial Belanda di Hindia Timur, sistem ini sangat berhasil. Sebab antara tahun 1831 dan 1871, Batavia tidak hanya mampu berkembang sendiri, tetapi juga memiliki pendapatan bersih tunai sebesar 823 juta gulden di Kerajaan Belanda. Biasanya lebih dari 30% anggaran kerajaan berasal dari Batavia. Pada tahun 1860-an, 72% pendapatan Kerajaan Belanda disumbangkan oleh Oost Indische atau Hindia Belanda. Batavia menjadi sumber modal secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, mengumpulkan dana untuk Kereta Api Nasional Belanda yang mewah. Perbendaharaan Kerajaan Belanda juga surplus.

Pengoperasian sistem pertanian wajib Nederlandsche Handel Maatchappij (NHM) merupakan reinkarnasi dari VOC yang bangkrut.

Akibat perladangan paksa ini, produksi beras turun dan harga melonjak. Pada tahun 1843, terjadi bencana kelaparan di Cirebon, Jawa Barat. Pada tahun 1850, kelaparan juga melanda Jawa Tengah.

Setelah mendapat protes keras dari seluruh lapisan masyarakat di Belanda, sistem pertanian paksa yang kejam ini akhirnya dihapuskan pada tahun 1870, meskipun untuk pabrik kopi di luar Jawa sistem ini bertahan hingga tahun 1915. Rencana tersebut dilaksanakan untuk menggantikan sistem sewa tanah dalam UU Pertanahan 1870. .

Pada Masa Penjajahan Jepang

Setelah Jepang menduduki Indonesia, ternyata produksi beras tidak mampu memenuhi permintaan. Oleh karena itu perlu dilakukan perluasan areal persawahan untuk meningkatkan produksi padi. Meskipun demikian, produksi biji-bijian terus menurun antara tahun 1941-1944.

Pengawasan pertanian dan perkebunan. Guna mengontrol harga komoditas, khususnya beras, operasi pertanian diawasi secara ketat. Peraturan pengelolaan produk pertanian adalah sebagai berikut: petani menyumbang 40% dan harus dijual kepada pemerintah Jepang dengan harga yang sangat rendah, dan 30% harus diserahkan ke “lumbung pedesaan.” Peraturan ini sangat merugikan petani, dan mereka yang berani melanggar hukum akan dihukum berat. Organisasi yang menangani pelanggaran disebut Polisi Rakyat (Kempetai), dan masyarakat sangat khawatir.

Menerapkan pengawasan produksi perkebunan secara ketat. Jepang hanya memperbolehkan budidaya dua tanaman, yaitu karet dan kina. Kedua tumbuhan itu terkait langsung dengan kepentingan perang. Ketika Anda berhenti merokok, minumlah teh, minum kopi, karena itu hanya terkait dengan kenikmatan. Padahal, ketiga jenis tanaman ini sangat populer di pasaran dunia. Karena itu, kebijakan ekonomi pemerintah Jepang sangat merugikan rakyat.

Memobilisasi sumber daya ekonomi untuk tujuan perang. Untuk mengontrol produk pertanian dan kekayaan rakyat, Jepang selalu percaya bahwa ini untuk tujuan perang. Setiap penduduk harus mengembalikan kekayaannya kepada pemerintah Jepang. Orang-orang harus menyerahkan barang berharga (emas dan berlian), hewan, dan makanan kepada pemerintah Jepang.

Untuk mempercepat usahanya, Jepang membentuk Tim Pelayanan Rakyat Jawa (Jawa Hokokai) dan koperasi pertanian Nogyo Kumiai. Kebijakan pemerintah Jepang di bidang ekonomi telah membuat kehidupan masyarakat Indonesia semakin sengsara dan menyakitkan. Dibandingkan dengan penderitaan zaman penjajahan Belanda, penderitaan rakyat Indonesia pada masa penjajahan Jepang lebih serius. Faktanya, Jepang menduduki Indonesia hanya tiga setengah tahun, sedangkan Belanda menduduki Indonesia selama tiga setengah abad.

Baca Juga: Mengulas Peradaban Kuno Tiongkok

“Perkembangan Pertanian Di Indonesia”

Sejak tahun 1969, berkat revolusi hijau kelas dunia, Indonesia telah memulai program intensifikasi skala besar (INMAS) bagi petani. Pada tahun tersebut, petani dikenalkan dengan berbagai jenis pupuk buatan (pupuk kimia di alam), obat-obatan yang mematikan hama dan gulma (insektisida dan herbisida) dan benih unggul, serta penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. pengerasan tanah. Misalnya seperti yang telah disebutkan di atas, masalah lain yang menjadi perhatian di Indonesia adalah proses menunjukkan kemiskinan atau berkurangnya kandungan 10 zat gizi, termasuk beberapa zat gizi makro seperti Ca, S dan Mg (3 unsur) dan mikronutrien yaitu Fe, Na, Zn , Cu, Mn, B dan Cl (7 elemen).

Perkembangan pertanian di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Selain berbagai ancaman akibat bencana alam dan perubahan iklim, akibat peningkatan penggunaan pupuk, tanah yang mengeras rusak dan pertanian juga terancam. Melalui kebijakan rencana Insus 1969 pemerintah, intensitas penggunaan pupuk kimia meningkat. Akibatnya residu tanah menumpuk, hama bertambah, banyak jenis dan resistensi terhadap obat-obatan pertanian.

Pada saat yang sama, apa yang dialami oleh para petani itu sendiri dapat mengancam hilangnya kemandirian mereka. Artinya, para petani itu dikriminalisasi dalam bentuk litigasi yang menyasar sekitar 16 petani asal Kediri dan sekitarnya. Salah satunya, Burhana Juwito Muhammad Ali, anggota Perkumpulan Bhan Tani Makmur Kediri, divonis lima bulan penjara karena diduga melanggar sertifikasi pembenihan. Faktanya, Burhana tidak pernah menjalani sertifikasi pembenihan.

Peralihan dari sistem pemerintahan yang terpusat ke otonomi daerah di era orde baru juga berdampak pada penyebaran dan pemahaman informasi. Oleh karena itu yang terpenting adalah program komunikasi antara pusat dan daerah.

Diperkirakan sekitar 342.387 hektar (Biro Tanaman Pangan Kalimantan Selatan, 2002; Statistik Kalimantan Selatan, 2003) berpotensi untuk dikembangkan untuk pertanian, perikanan, perkebunan dan kehutanan.

Penggunaan rawa baru sekitar 143.118 hektar, dan sisanya 199.269 hektar (58,19%) masih merupakan lahan tidur yang belum diolah (Anonim, 2003). Meski demikian, lahan rawa berpotensi untuk dikembangkan karena didukung oleh lahan yang luas, medan yang datar, sumber air yang memadai dan teknologi pertanian yang memadai (Noor. M., 2007).

Dari sisi sumber daya manusia, angkatan kerja produktif sebagian besar masih mendominasi industri primer (pertanian dan pertambangan), hal ini terlihat dari data angkatan kerja Kalimantan Selatan tahun 2008 yang dirilis oleh BPS Kalimantan Selatan sebesar 48%. Semua pegawai.

Hanya saja belum ada upaya serius untuk mempertahankan sektor pertanian ke arah yang lebih modern. Petani dibagi menjadi unit-unit kecil dan hanya bisa mencari nafkah sendiri untuk meningkatkan kesejahteraannya. Sekalipun alokasi dana untuk sektor pertanian cukup besar, arahnya belum optimal, dan tidak akan mempengaruhi kehidupan seluruh petani. Ini wajar karena petani tersebar secara sporadis. Geltz percaya bahwa inilah salah satu penyebab degradasi pertanian.

Jika sistem dan pengembangan sumber daya manusia tidak sempurna, maka rencana dan kebijakan yang disusun oleh pemerintah menjadi tidak optimal. Kualitas dan kuantitas SDM pertanian semakin menurun. Pada saat yang sama, dari segi luas lahan juga semakin berkurang seiring dengan kemajuan zaman. Namun dalam metode pembangunan, kami tetap hanya memperhatikan cara-cara yang ditata ketika sumber daya manusia dan lahan mengalami surplus.

Disinilah pentingnya Revolusi Pertanian pada tataran pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan pertanian. Rencana jangka panjang terkait kebijakan pertanian harus mencerminkan komitmen yang besar dan tegas bahwa pertanian tidak lagi dipandang sebagai bagian dari suatu sektor, tetapi sebagai bagian dari pertanian. Tujuan pembangunan departemen secara keseluruhan harus untuk memperkuat pengembangan sumber daya manusia, kesehatan dan pendidikan untuk mendukung pertanian; pengembangan departemen kesejahteraan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Di Kalimantan Selatan, industrialisasi pertanian harus segera dilakukan, karena sektor-sektor basis perekonomian telah mengalami perubahan yang cukup signifikan yaitu tidak sehat. Peralihan ke industri tersier yang tidak didukung oleh industri sekunder (industri) yang kuat akan menyebabkan tatanan perekonomian mudah terguncang. Di Kalimantan bagian selatan yang merupakan daerah dengan potensi pertanian yang besar, pembangunan yang paling aktif adalah pertanian.

Kebijakan pemerintah di bidang pertanian perlu direview, antara lain kebijakan yang mendorong pembangunan infrastruktur pertanian, konsistensi rencana dan implementasi RTRW, serta mendukung implementasi sistem penghargaan daerah (regional) untuk produksi komoditas berkualitas tinggi. Alih fungsi lahan pertanian yang terkait dengan pembangunan perkotaan harus diawasi secara ketat, yang berdampak pada kawasan permukiman dan perdagangan. Perlu segera dilakukan penghitungan luas lahan pertanian yang ideal untuk mendukung kebutuhan daerah akan produksi pertanian khususnya tanaman pangan.

Industri pertanian membutuhkan bahan baku terkoordinasi dalam jumlah besar. Oleh karena itu, kebijakan alih fungsi lahan harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pertanian. Kebijakan kompensasi perubahan penggunaan lahan harus digunakan untuk mendirikan pusat distrik pertanian. Ini akan membantu memfokuskan pengembangan petani tradisional ke arah modern.

Pembentukan koperasi pertanian yang selektif akan memperkuat posisi tawar petani dan produksinya, sehingga tidak kalah dengan permintaan pasar yang selalu menginginkan harga terendah.

Menurut data Badan Pusat Statistik, terdapat sepuluh produk pertanian penting pada tahun 2003, dan hasilnya mencapai rekor tertinggi dalam sejarah Republik Indonesia. Sepuluh komoditas yang terlibat adalah beras, jagung, kacang tanah, ubi kayu, sayur mayur dan buah-buahan, kelapa sawit, kakao, kopi, karet dan ayam pedaging. Produksi beras meningkat dari 49 juta ton pada tahun 1998 menjadi 52,1 juta ton pada tahun 2003, rekor tertinggi. Bahkan pada tahun 2004, data prakiraan IIBPS menunjukkan bahwa produksi beras 53,67 juta ton, rekor tertinggi; jagung meningkat dari 9,2 juta ton pada tahun 1999 menjadi 11 juta ton pada tahun 2003; CPO meningkat dari 5,62 juta pada tahun 1998 hingga 2003 10,6 juta karet meningkat dari 1,6 juta ton pada tahun 1998 menjadi 2,7 juta ton pada tahun 2003. Jumlah ayam pedaging meningkat dari 324 juta pada tahun 1999 menjadi 1 miliar pada tahun 2003. Yang kami banggakan adalah peningkatan output sebagian besar disebabkan oleh peningkatan produktivitas. Salah satu penyebab tidak adanya fluktuasi pangan antara tahun 2000 dan 2003 adalah karena hal tersebut didorong oleh pencapaian produksi komoditas pangan utama ini. Dua puluh tahun kemudian, tampaknya di tahun 2004, kita kembali mencapai swasembada beras.

Tidak hanya itu, data BPS juga melaporkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan telah meningkat pesat. Indeks nilai tukar petani meningkat dari 96,6 pada tahun 2000 menjadi 110,4 pada tahun 2003. Angka kemiskinan di pedesaan turun rata-rata 20%, dari 32,7 juta pada tahun 1999 menjadi 25,1 juta pada tahun 2002. Angka kemiskinan juga turun dari 260 juta pada tahun 2000. Pada 1999, jumlahnya 20,6 juta pada 2002. Di sisi lain, tingkat upah di pedesaan mengalami kenaikan sekitar 17% setiap tahunnya, sehingga meningkatkan pendapatan tenaga kerja pertanian di pedesaan.

Di tingkat makro, kemajuan konsisten. Jumlah total impor pertanian masih besar, namun menurun, sedangkan ekspor meningkat. Dengan demikian, neraca perdagangan komoditas pertanian mengalami peningkatan rata-rata 15% per tahun, dari 2,2 miliar dolar AS pada 1999 menjadi 3,4 miliar dolar AS pada 2002 dan 3,7 dolar AS pada 2003. PDB pertanian terus meningkat selama periode 2000-2003. Dengan tingkat tahunan rata-rata 1,83%, PDB pertanian pada tahun 2003 meningkat sekitar 2,61%. Laju pertumbuhan ini lebih tinggi dari laju pertumbuhan pertanian pada masa krisis (1998-1999), hanya 0,88%, bahkan lebih tinggi dari rata-rata laju pertumbuhan pertanian pada akhir orde baru (1993-1997) (hanya 1,57% per tahun. ).

Tingkat pertumbuhan ini. Tidak mempertimbangkan agribisnis hulu dan hilir (seperti industri mesin pertanian, pupuk, benih, benih, produk olahan, dll). Mengingat dampak pengganda pertanian yang besar, baik maju maupun mundur, terlihat jelas bahwa pertumbuhan sektor pertanian berdampak besar terhadap perekonomian nasional. Kemajuan yang telah kami buat juga memiliki kualitas yang lebih tinggi. Pertumbuhan di atas bukan karena biaya sama sekali, tetapi karena kreativitas komunitas agribisnis. Indonesia memang berhasil mencapai swasembada beras pada tahun 1984, tetapi ini dicapai melalui gerakan yang dipimpin oleh pemerintah.Pertama-tama, pemerintah mengalokasikan sumber daya ke daerah-daerah terpencil di desa kita dengan biaya tinggi. Inilah yang kami sebut digerakkan oleh pemerintah.

Pada era kabinet Gotong Royong, model ini kami rubah menjadi model yang dipimpin oleh manusia, yang diawali dari rencana kelompok tani, dan Dinas Pertanian sebagai direktur teknis. Dengan cara ini, pendistribusian sumber daya dilakukan oleh petani, sedangkan pemerintah memberikan kemudahan. Dengan kemajuan pertanian seperti itu – dari sudut pandang ekonomi, pertanian Indonesia telah berhasil melepaskan diri dari pertumbuhan spiral pertumbuhan rendah (1998-1999), dan memasuki tahapan pertumbuhan yang dipercepat (percepatan pertumbuhan) menuju pertumbuhan berkelanjutan (pertumbuhan berkelanjutan). Artinya pertanian Indonesia telah mengalami peningkatan ke kondisi masa krisis dan berakhirnya orde baru.

Baca Juga: Mengulas Peradaban Kuno Maya

Yang perlu kita rumuskan dalam jangka pendek hingga menengah (dalam lima tahun ke depan) adalah bagaimana menjaga dan meningkatkan kinerja yang menggembirakan ini. Apa yang telah kami capai sekarang adalah dasar untuk pengembangan lebih lanjut. Setidaknya ada lima upaya yang harus segera dilakukan dan segera dilaksanakan guna menopang percepatan pertumbuhan sektor pertanian secara berkelanjutan, yaitu:

  1. Merenovasi dan memperluas infrastruktur fisik, terutama sistem irigasi, sistem transportasi, sistem telekomunikasi, dan kelistrikan pedesaan;
  2. Revitalisasi sistem inovasi pertanian (penelitian dan pengembangan, diseminasi teknologi pertanian);
  3. Pengembangan kelembagaan agribisnis (pemerintahan, organisasi pengusaha dan jaringan usaha);
  4. Membangun kembali sistem insentif produksi dan investasi; dan
  5. Pengelolaan pasar input dan output.

Semua ini merupakan tambahan dari kebijakan perlindungan dan promosi dasar yang telah kami tetapkan dalam tiga tahun terakhir. Ke depan, pengalaman berbagai krisis yang menyakitkan dari tahun 1998 hingga 1999 akan memberikan pelajaran berharga bagaimana sektor pertanian dapat menjadi tulang punggung, penyerap goncangan dan penyelamat sistem ekonomi. Sektor pertanian merupakan kunci pengentasan kemiskinan dan penguatan ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu pembangunan sektor pertanian harus tetap menjadi prioritas pembangunan nasional. Ini adalah konsensus politik dan masih membutuhkan upaya bersama.

Kinerja sektor pertanian tidak hanya mencerminkan kinerja Kementerian Pertanian. Faktanya, kinerja sektor pertanian lebih baik di pihak selain Kementerian Pertanian. Oleh karena itu, meskipun kinerja sektor pertanian membaik, keuntungan terbesar akan datang dari petani dan agribisnis di seluruh negeri.

Orang tua Papadah, Bahari: “Jangan pernah makan nasi, karena ini kue parmali, jadi sisa makanan akan membusuk.” Tampaknya bermakna menggambarkan cara pemerintah daerah menangani masalah pertanian. Dengan komoditas yang melimpah dan lahan yang subur, kita lupa bersyukur dan siap bersiap di akhir jaman kaya

Indikator ini dapat dilihat secara telanjang pada grafik anatomi pertumbuhan sektor pertanian kita. Khusus di Kalimantan Selatan, kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB dari tahun 2006 hingga 2009 rata-rata hanya sebesar 22,36% dengan rata-rata laju pertumbuhan negatif.